Menjadi produk yang inovatif merupakan sebuah kebanggaan. Karena setelah melalui sebuah proses
pengembangan produk atau product development yang melahirkan berbagai inovasi, maka sebuah produk dapat
melenggang dengan penuh percaya diri untuk memenangkan kompetisi.
Namun, jangan lengah! Produk pesaing pun tidak henti-hentinya berinovasi demi menjadi sang juara. Mereka terus
berlomba-lomba melakukan riset pengembangan produk. Hampir semua paham bahwa inovasi telah menjadi modal
awal yang besar untuk dapat memenangkan hati konsumen. Lalu, ketika semua produk juga melakukan inovasi,
apakah syarat inovatif sudah cukup untuk menjadikan produk sebagai pemenang?
Mari kita lihat dalam kasus yang terjadi pada kompetisi antar produk inovatif di kategori minuman isotonik
Bila saat ini Anda sering menonton televisi, Anda tentu akan melihat iklan dari sebuah produk inovatif di
kategori minuman isotonik, yaitu Powerade. Dengan berbagai versi, Powerade berusaha menampilkan iklan-iklan
yang cukup menarik perhatian. Tujuannya jelas, Powerade berusaha membuat pemirsa aware secara spontan
terhadapnya. Dengan begitu, Powerade akan memiliki ungkitan yang cukup kuat untuk bisa bersaing dengan para
pemain yang telah bertarung sebelumnya di pasar minuman isotonik.
Namun, apakah Powerade akan mampu mengalahkan produk-produk inovatif sebelumnya?
Berdasarkan hasil riset yang di lakukan dalam Indonesian Consumer Profile (ICP) 2008 terhadap beberapa merek di
kategori ini, setidaknya ada dua merek yang bersaing sangat ketat, yaitu sang pemimpin pasar, Pocari Sweat, dan
merek yang terus berusaha untuk menyalipnya, Mizone.
Data tersebut memperlihatkan bahwa saat ini Pocari Sweat masih menjadi Top of Mind di bisnis kategori
minuman isotonik. Namun, kalau melihat dari sisi iklan, ternyata iklan Mizone lebih disukai konsumen. Lalu yang
menjadi pertanyaan, apa yang menyebabkan Pocari Sweat tetap menjadi Top of Mind? Ataukah iklan sudah tidak lagi
mempengaruhi penjualan dan Top of Mind bagi konsumen?
Mengacu pada konsep Hierarchy of Effect, untuk sampai pada proses “adoption” atau kondisi di mana
konsumen telah menjadi pelanggan setia maka perusahaan tidak hanya perlu meningkatkan awareness melalui iklan.
Tetapi juga perlu ada transfer product knowledge kepada konsumen. Artinya, perusahaan harus mampu membuat
konsumen benar-benar memahami apa benefit yang diterimanya. Nah, Pocari Sweat telah melakukan transfer
4
knowledge mengenai manfaat minuman isotonik sejak enam tahun lalu. Jadi, sangat wajar bila konsumen masih
banyak yang lebih percaya terhadap merek Pocari Sweat.
Namun, efek dari gencarnya iklan-iklannya, yang menarik yang dilakukan Mizone tetap sangat ampuh dalam
meningkatkan awareness dan penjualan. Buktinya, saat ini Mizone telah menjadi pesaing terberat di pasar ini. Berbeda
dengan merek lainnya yang bernasib kebalikannya. Sehingga, di pasar ini tinggal Mizone dan Pocari Sweat yang terus
bersaing memperebutkan tempat pertama.
Untuk itu, yang perlu dilakukan Powerade saat ini bila ingin menyalip Pocari Sweat adalah tidak sekadar
membuat iklan yang gencar dan menarik, tetapi juga perlu ada transfer knowledge atau edukasi pasar yang efektif dan
jitu. Sehingga, bukan tidak mungkin Powerade akan bisa menyalip posisi Mizone maupun Pocari Sweat dan menjadi
pemimpin pasar. Akhirnya, baik Pocari Sweat, Mizone, dan Vitazone tentu harus berhati-hati. Dan sekarang tinggal
menunggu, apakah Powerade akan mampu menjadi pesaing utama Pocari Sweat atau Mizone? Ataukah akan
bernasib seperti merek lainnya?
Jadi, ketika semua produk terus melakukan inovasi maka tantangan selanjutnya adalah bagaimana menang
dalam hal strategi marketing. Karena, dengan didukung strategi marketing yang jitu, kesempatan untuk menjadi
pemenang menjadi terbuka lebar. Bahkan bukan tidak mungkin, produk inovatif dengan strategi marketing yang jitu
akan dapat menyalip produk inovatif lainnya yang hanya menggunakan strategi marketing biasa
pengembangan produk atau product development yang melahirkan berbagai inovasi, maka sebuah produk dapat
melenggang dengan penuh percaya diri untuk memenangkan kompetisi.
Namun, jangan lengah! Produk pesaing pun tidak henti-hentinya berinovasi demi menjadi sang juara. Mereka terus
berlomba-lomba melakukan riset pengembangan produk. Hampir semua paham bahwa inovasi telah menjadi modal
awal yang besar untuk dapat memenangkan hati konsumen. Lalu, ketika semua produk juga melakukan inovasi,
apakah syarat inovatif sudah cukup untuk menjadikan produk sebagai pemenang?
Mari kita lihat dalam kasus yang terjadi pada kompetisi antar produk inovatif di kategori minuman isotonik
Bila saat ini Anda sering menonton televisi, Anda tentu akan melihat iklan dari sebuah produk inovatif di
kategori minuman isotonik, yaitu Powerade. Dengan berbagai versi, Powerade berusaha menampilkan iklan-iklan
yang cukup menarik perhatian. Tujuannya jelas, Powerade berusaha membuat pemirsa aware secara spontan
terhadapnya. Dengan begitu, Powerade akan memiliki ungkitan yang cukup kuat untuk bisa bersaing dengan para
pemain yang telah bertarung sebelumnya di pasar minuman isotonik.
Namun, apakah Powerade akan mampu mengalahkan produk-produk inovatif sebelumnya?
Berdasarkan hasil riset yang di lakukan dalam Indonesian Consumer Profile (ICP) 2008 terhadap beberapa merek di
kategori ini, setidaknya ada dua merek yang bersaing sangat ketat, yaitu sang pemimpin pasar, Pocari Sweat, dan
merek yang terus berusaha untuk menyalipnya, Mizone.
Data tersebut memperlihatkan bahwa saat ini Pocari Sweat masih menjadi Top of Mind di bisnis kategori
minuman isotonik. Namun, kalau melihat dari sisi iklan, ternyata iklan Mizone lebih disukai konsumen. Lalu yang
menjadi pertanyaan, apa yang menyebabkan Pocari Sweat tetap menjadi Top of Mind? Ataukah iklan sudah tidak lagi
mempengaruhi penjualan dan Top of Mind bagi konsumen?
Mengacu pada konsep Hierarchy of Effect, untuk sampai pada proses “adoption” atau kondisi di mana
konsumen telah menjadi pelanggan setia maka perusahaan tidak hanya perlu meningkatkan awareness melalui iklan.
Tetapi juga perlu ada transfer product knowledge kepada konsumen. Artinya, perusahaan harus mampu membuat
konsumen benar-benar memahami apa benefit yang diterimanya. Nah, Pocari Sweat telah melakukan transfer
4
knowledge mengenai manfaat minuman isotonik sejak enam tahun lalu. Jadi, sangat wajar bila konsumen masih
banyak yang lebih percaya terhadap merek Pocari Sweat.
Namun, efek dari gencarnya iklan-iklannya, yang menarik yang dilakukan Mizone tetap sangat ampuh dalam
meningkatkan awareness dan penjualan. Buktinya, saat ini Mizone telah menjadi pesaing terberat di pasar ini. Berbeda
dengan merek lainnya yang bernasib kebalikannya. Sehingga, di pasar ini tinggal Mizone dan Pocari Sweat yang terus
bersaing memperebutkan tempat pertama.
Untuk itu, yang perlu dilakukan Powerade saat ini bila ingin menyalip Pocari Sweat adalah tidak sekadar
membuat iklan yang gencar dan menarik, tetapi juga perlu ada transfer knowledge atau edukasi pasar yang efektif dan
jitu. Sehingga, bukan tidak mungkin Powerade akan bisa menyalip posisi Mizone maupun Pocari Sweat dan menjadi
pemimpin pasar. Akhirnya, baik Pocari Sweat, Mizone, dan Vitazone tentu harus berhati-hati. Dan sekarang tinggal
menunggu, apakah Powerade akan mampu menjadi pesaing utama Pocari Sweat atau Mizone? Ataukah akan
bernasib seperti merek lainnya?
Jadi, ketika semua produk terus melakukan inovasi maka tantangan selanjutnya adalah bagaimana menang
dalam hal strategi marketing. Karena, dengan didukung strategi marketing yang jitu, kesempatan untuk menjadi
pemenang menjadi terbuka lebar. Bahkan bukan tidak mungkin, produk inovatif dengan strategi marketing yang jitu
akan dapat menyalip produk inovatif lainnya yang hanya menggunakan strategi marketing biasa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar